Sekitar jam delapan, setelah memastikan semuanya lancar. Moko
berangkat kerja, ke pasar ikan. Tinggalah Didin dan Marna berbagi tugas untuk
mengerjakan tugas harian. Mengepel, menyapu, menguras bak mandi, membenarkan
atap yang bocor dan pelbagai macam pekerjaan rumah tangga lainnya, termasuk
memasak.
Sekitar jam sembilanan, Marna pergi ke ruangan warnet yang
berada tak jauh dari bagunan Villa, sementara Didin masih berkutat didapur
untuk menyiapkan sarapan, yang memang hari ini adalah tugas Didin dalam urusan
dapur. Semua tugas mereka kerjakan sama-sama, kecuali memasak, mereka sepakat
untuk membagi tugas ini karena yang satu harus menjaga warnet. Hari ini Didin
memasak, Marna menjaga warnet. Besok Marna memasak dan Didin menjaga warnet.
Begitu seterusnya.
Marna mengambil sapu dan membersihkan seluruh ruangan warnet,
setelah sebelumnya menyalakan komputer utama dan empat komputer lainnya agar
siap digunakan oleh para pengunjung warnet yang sebetulnya memang sepi dari
pengunjung. Sejatinya warnet itu disediakan Haji Nonoh hanya untuk membantu
para pekerjanya agar tidak jenuh ketika tak ada kegiatan berarti di Villa.
*****
Hari beranjak siang, setelah rutinitas pagi tadi yang rampung
Marna kerjakan, selebihnya pekerjaan Marna adalah menunggu. Menunggu warnet
yang sangat sepi dari pengunjung. Sehari tidak ada pengunjung adalah hal yang
biasa. Karena membuka warnet dilokasi Villa yang jauh dari keramaian bukanlah
hal yang akan menguntungkan. Maka hanya Marna-lah pengguna sejati dari warnet
yang dia jaga. Untuk melawan kejenuhannya, Marna suka menghabiskan waktu dengan
berinteraksi di salah satu jejaring sosial Facebook untuk hanya sekedar berbagi
status atau berbagi photo.
Sementara Didin sesekali ikut bersama, namun tak sesering
Marna, Didin lebih sering menghabiskan waktu dengan telepon genggamnya,
menelpon pacar.
Tiap hari berganti, hari ini Tina, besok Euis, besoknya Rini,
besoknya lagi Dian. Berbeda jauh dengan Marna, paling mentok, Marna menelpon
atau ditelpon ibunya, atau adiknya. Itu juga kalau mereka punya keperluan?
Kalau tidak, sepertinya mereka lupa bahwa mereka masih punya satu anak lagi
yang bernama Marna.
Didin sangat agresif. Terlebih urusan perempuan. Entahlah,
itu yang selalu membuat Marna bingung. Marna sering bertanya-tanya; darimana Didin
memiliki kekuatan untuk menaklukan semua perempuan itu? Padahal wajah Didin dan
Marna tidak jauh berbeda. Maksudnya sama-sama kurang menjual, tapi di banding Marna,
perempuan malah lebih memilih Didin. Itu juga terjadi kepada seorang perempuan
yang sangat di taksir sama Marna, eh malah menyukai Didin? Remuklah hati Marna.
*****
/d/
Sore pun habis, hari hanya tersisa malam diiringi alunan
suara jangkrik yang saling bersahutan. Diluar, langit teramat sangat gelap.
Jalan didepan Villa yang sepi, semakin bertambah sepi. Namun, beberapa buah bola
cahaya penemuan Thomas Alva Edison menerangi jalan menggantikan matahari yang
berubah menjadi bulan.
Marna mengunci gerbang villa dan pintu warnet. Ada lima kunci
yang ia gunakan, salah satu kuncinya ada yang sangat besar sekali dan tentunya
lebih berat dari yang lainnya. Marna tidak tahu dari mana Haji Nonoh bisa
membeli kunci gembok seperti itu. Yang ia tahu hanyalah cara membuka dan
menguncikannya. Suasana di dalam villa begitu hening, maklum, ruangan sebesar
itu hanya di huni oleh dua orang, mereka tak pernah menggunakan fasilitas yang
ada di bangunan villa. Mereka hanya berkumpul dibelakang atau sesekali diruang
warnet, yang bangunannya memang terpisah dari villa.
Kini hari sudah benar-benar malam. Didin sudah tertidur di
kamarnya. Satu jam kemudian, Marna masuk ke kamarnya, mematikan lampu dan
tidur.
*****
/e/
Tiga tahun kemudian.
Marna masih bangun di tempat yang sama. Villa yang sama,
kamar yang sama, dengan lemari yang sama, juga dengan rutinitas yang sama. Tapi
semuanya kini sudah berbeda. Tidak ada Didin yang selalu sibuk dengan hapenya,
tidak ada lagi Moko yang pagi-pagi membuka gerbang kemudian menyeduh kopi dan
duduk dipaviliun. Hanya dia sendiri di Villa Willasan Inn milik Haji Nonoh
itu.
Karena dedikasi yang telah di berikan, Moko di pekerjakan sebagai
Mandor di salah satu proyek Haji Nonoh di Jawa Tengah. Moko sangat senang
sekali karena bisa sekalian pulang kampung. Moko pun membawa istrinya ke kampung
halamannya di Jawa Tengah. Sementara Didin, hanya dua tahun saja menemani Marna
kemudian keluar. Ia sekarang menjadi karyawan disalah satu pabrik di Tanggerang.
“Mar, kita gak bakalan terus-terusan hidup seperti ini” ucap Didin
suatu ketika pada Marna, tepat seminggu sebelum mengundurkan diri.
“kita tidak mungkin selamanya menggantungkan hidup pada gaji
yang di berikan Haji Nonoh. Itu tidak cukup. Mungkin sekarang cukup karena
masih membujang, belum punya tanggungan, tapi nanti? Apa kamu tidak ada niat
punya istri?”
“ya ada, aku kan normal” jawab Marna polos.
“ya itu, apa kamu mau menghabiskan sisa hidupmu menjadi
penjaga villa dan warnet sepi ini. Apakah kamu rela membiayai istri kamu
dengan gaji lima ratus ribu? Cukup buat apa, Mar? Belum lagi kalau punya anak?
Masih banyak rencana hidup yang belum di tuntaskan, dan kamu tidak bisa
bertahan dengan kondisi yang sekarang. Kita harus bangkit, bergerak keluar dari
lingkaran nasib ini. Kalau tidak? Kamu bakalan membusuk di tempat sepi ini!”
Perkataan Didin itu membuat batin Marna remuk. Tepat di ulu
hatinya yang paling dalam. Marna merasa sakit. Sakit sekali dengan ucapan Didin
itu. Sakit karena pikiran dia tidak sampai kesana. Iri dengan semua rencana
yang dipunyai oleh Didin. Sementara dia sendiri. Tidak mempunyai rencana
apa-apa. Tidak mempunyai rancangan apa-apa tentang bagaimana hidupnya berjalan.
Dulu ketika Moko menawarkan pekerjaan itu, Marna hanya tahu,
mendapatkan penghasilan, cukup untuk makan sendiri, yang penting tidak menjadi
tanggungan orang tua. Baginya itu lebih dari cukup.
Tapi ternyata, itu tidaklah cukup, kenyataan menuntut lebih. Marna
tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia mendadak benci pada dirinya sendiri.
Umurnya kini sudah di penghujung angka 30. Tapi kehidupannya tidak banyak yang
berubah. Perubahan besar yang terjadi, yang Marna rasakan, yaitu ketika bertemu
dengan Moko, yang mengantarkannya menjadi penjaga Villa Willasan Inn dan Warnet
milik Haji Nonoh. Setelah itu, tidak ada.
Marna menjalani hidupnya dengan monoton, nyaris seperti
binatang, melakukan itu-itu saja berulang-ulang, rutinitas yang sama selama
kurang lebih empat tahun ke belakang; ngepel ruangan depan villa,
menyapu, menguras bak mandi, menyalakan komputer, melayani pengunjung yang
sesekali datang, membenarkan atap yang bocor, mengunci gerbang, mematikan semua
lampu ketika malam, menerima gaji sebesar lima ratus ribu, dan hanya lima puluh
ribu yang ia bisa tabung, sholat, nongkrong didepan komputer, beli rokok ke
warung, masak mie…
Cerita ini sejatinya bakal menarik kalau di lanjutkan, tapi
sayang, saya harus mengakhirinya sampai di sana. Saya hanya bisa mengantarkan
anda pada sepenggal episode kehidupan Marna bagian ini saja. Marna kini masih
hidup sebagai penjaga Villa Willasa Inn, di Pelabuan Ratu, Kabupaten Sukabumi
Kota Sukabumi, dia asli. Hidup dan bukan rekaan. Dia masih menjalankan
rutinitas yang telah saya sebutkan di atas. Hanya saja saya tidak menuliskan
nama asli pelaku sebenarnya. Marna, Moko, Didin dan Haji Nonoh hanyalah nama
yang saya reka kedalam sebuah tulisan dari sebuah kehidupan nyata yang dijalani
seorang penjaga villa yang sebenarnya.
Sesekali kehidupan yang kita jalani memang terkadang monoton,
membosankan. Pengen rasanya menjalani kehidupan yang tidak biasa, tapi tidak
bisa. Karena kita takut meninggalkan kehidupan yang sekarang ini. Padahal kita
sendiri tidak tahu, apakah kehidupan yang kita jalani sekarang ini adalah yang
terbaik buat kita, atau bahkan mungkin, Tuhan menunggu kita mengambil keputusan
untuk merubah jalan hidup kepada yang lebih baik. Karena kehidupan yang
sekarang, yang menurut kita baik, ternyata bagi Tuhan bukanlah yang terbaik?
Tapi bagaimana caranya mengetahui jalan hidup yang terbaik bagi kita menurut
Tuhan? Tentu kita tidak akan pernah tahu. Dan karena ketidaktahuan itulah, kita
terus dihadapkan pada kegamangan pilihan, ini atau itu?
Tapi jangan khawatir dengan cerita ini, anda jadi tahu, bahwa
anda tidak sendiri, ada Marna menemani anda. Terimakasih. Semoga
bermanfaat.
----- SELESAI -----




wuah gak sudah selesei ceritanya, g da happy endingnya pak haji
BalasHapusMaap, Kang Haji hanya bisa menyampaikan sampai disitu saja.
HapusBukan tak mau, tapi hanya sebatas itu yang Kang Haji tau tentang Si Sumarna. Kang Haji gak ngobrol banyak ma dia.
Mudah-mudahan kalo ketemu lagi, Kang Haji bisa mengorek cerita kehidupan Sumarna yang lainnya.....