Satu
Tadi siang
Kang Haji pergi ke salah satu Bank ternama di Indonesia untuk mentransfer sejumlah uang. Ketika masuk, Kang
Haji di sambut oleh dua mesin ATM yang di depannya sudah ada antrian yang cukup
panjang, sekira lima orang di satu mesin ATM, jadi kira-kira ada sepuluh orang
yang antri di sana. Masuk sedikit, menjorok ke kanan, di sekat oleh satu
tembok, ruang tunggu itu pun sudah di jejali
oleh orang-orang yang menunggu. Mereka yang menunggu, masing-masing sudah
memegang karcis antrian, satu orang satpam bertugas memanggil nomor yang
tertera di karcis itu.
Yang
dipanggil langsung maju ke meja dimana ia berkepentingan; ada yang ke customer
sevice, financial consultant, dan lain sebagainya.
Biar rapi.
Budayakan antri, begitu kata salah seorang cagub pada pemilihan kemarin, ketika
berkampanye.
“empat puluh
satu!” seru satpam. Maka bapak yang memakai baju batik Pekalongan dengan peci
hitam dan celana hitam pun berdiri, maju ke meja customer service.
“ada yang bisa
saya bantu pak?” jawab Mbak Poetry ramah.
Kalian yang
baca pasti heran? Darimana Kang Haji bisa mengenali perempuan berparas jelita
berkulit putih berkacamata itu. Kalian jangan salah sangka dulu. Kang Haji
mengenalnya dari papan nama yang menggantung di dada kirinya, setelah
disidik-sidik, namanya Poetry.






