Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Keur Daek Nulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keur Daek Nulis. Tampilkan semua postingan

Sejumput Makna, TV


Kebenaran itu sendiri, tak berkata, melalui kata-kata

Televisi sebagai Souvenir Dari Abad 21, inilah yang yang pernah menjadi materi di salah satu stasiun TV dan diulas dengan detail dari mulai awal pembuatan TV yang hitam putih sampai berwarna. Dari materi yang sangat sederhana sampai acara yang penuh dengan ideology, sesak dengan doktrinasi, menjejal di kepala sehingga kita hanya akan bisa ternganga semamput dibuatnya. Dari Film Charlie Chaplin yang bisu dan hitam putih, yang Kang Haji sendiri tidak mengetahui kapan dibuatnya, sampai film Fast and Furious 6 yang sampai saat sekarang belum pernah Kang Haji tonton.

Memang TV sekarang menjadi bahan pembicaraan baru dalam kajian kebudayaan.

TV sebagai salah satu ikon kemajuan sains dan teknologi. TV pula kadang kala dijadikan salah satu standard kemodernan. Pun kita sering mendengar mengenai isu TV ini, yang sedikit banyak menguraikan mengenai kejelekannya atau sisi negatif dari TV, dan jarang untuk menghindari kata tanpa, mengulas mengenai sisi positif dari keberadaan TV ini. Ataukah memang betul adanya bahawa dari ‘diri’ hanya terdapat kejelekannya saja.

Singkat kata TV itu nggak baik.

Pegawai Bank

Satu


Tadi siang Kang Haji pergi ke salah satu Bank ternama di Indonesia untuk mentransfer sejumlah uang. Ketika masuk, Kang Haji di sambut oleh dua mesin ATM yang di depannya sudah ada antrian yang cukup panjang, sekira lima orang di satu mesin ATM, jadi kira-kira ada sepuluh orang yang antri di sana. Masuk sedikit, menjorok ke kanan, di sekat oleh satu tembok, ruang tunggu itu pun sudah di jejali  oleh orang-orang yang menunggu. Mereka yang menunggu, masing-masing sudah memegang karcis antrian, satu orang satpam bertugas memanggil nomor yang tertera di karcis itu.

Yang dipanggil langsung maju ke meja dimana ia berkepentingan; ada yang ke customer sevice, financial consultant, dan lain sebagainya.

Biar rapi. Budayakan antri, begitu kata salah seorang cagub pada pemilihan kemarin, ketika berkampanye.

“empat puluh satu!” seru satpam. Maka bapak yang memakai baju batik Pekalongan dengan peci hitam dan celana hitam pun berdiri, maju ke meja customer service.

“ada yang bisa saya bantu pak?” jawab Mbak Poetry ramah.

Kalian yang baca pasti heran? Darimana Kang Haji bisa mengenali perempuan berparas jelita berkulit putih berkacamata itu. Kalian jangan salah sangka dulu. Kang Haji mengenalnya dari papan nama yang menggantung di dada kirinya, setelah disidik-sidik, namanya Poetry.

"Aku ingin jadi KORUPTOR !!!"

Hari ini, semangat menulisku bersemi kembali.

Telah lama aku tak bersua dengan dirinya. Aku temukan dia di ujung jalan sana. Berdiri ditrotoar menjelma menjadi seorang bocah kecil yang tak kenal lelah menjual Lotek dan Karedok, tak kenal lelah, tak kenal letih. Tidak pernah perduli akan rasa malu dan gengsi. Semangatku berwujud seorang pengemis yang menggadaikan harga dirinya untuk sebuah recehan atau seorang penjaja makanan yang terus berjuang melawan korporasi Mc Di atau Ka eF Ci.

SEMANGATKU BANGKIT KEMBALI



Kang Haji tidak tahu persisnya kapan atau iraha ngamimitian deui. Dulu, Kang Haji memang pernah beberapa kali menulis di jejaring sosial yang bernama Facebook, kemudian berhenti. Tapi semenjak ningali tur wawuh sama yang namanya Blog, yang kang Haji lihat disana banyak orang sibuk dengan berbagai macam hal, entah itu sekedar nulis teu puguh atanapi upload poto, nawiskeun barang, dan lain sebagainya. KangHaji seakan terpanggil asa hayang curat-coret deui, najan teu ngarti oge kana carana ngeblog nu bener teh kumaha, tapi kajeun lah. Nah, semenjak itulah Kang Haji tergerak dan merasa terpanggil untuk menulis lagi, namun KangHaji tak mau terpanggil dulu oleh Sang Maha, kalian saja para pembaca duluan, biarlah Kang Haji belakangan. Hehehe,,,



Mungkin Kang Haji adalah salah satu orang dari berjuta-juta orang di dunia ini yang memiliki kebiasaan ketika membuka internet selalu membuka jendela Facebook selain beberapa jendela yang memang Kang Haji butuhkan untuk keperluan lainnya, seperti isuk-isuk Kang Haji asok muka jandela kamar ngarah seger.



Memangnya Facebook tidak begitu penting? Kang Haji pikir, ada kalanya Facebook penting sekali ketika memang ada yang memberi pesan atau informasi yang memang di kirim via facebook. Tapi facebook juga henteu penting, ketika kalian nongkrong kalian hanya membaca tulisan-tulisan yang seperti ini;

"Dah, bangundt tp msh ngantuk sangadt eummmphht semangadt deh dah adzan sholat dulu ah, met pagi :)"

"Huuffft cebeeelll dech....ue..."
 
Bring kedebrung, facebook tetaplah facebook, kini membicarakan Facebook dalam teropong pro dan kontra sudah ketinggalan zaman alias basi, kemungkinan besar orang tidak bakal mendengarkan; ‘da keur naon atuh, meni asa teu penting pisan'. Sebab sudah tidak ada alasan lain lagi selain menerima Facebook sebagai sebuah temuan yang sangat luar biasa, dan orang yang memiliki ide membuatnya bisa di katakan adalah seorang jenius di zamannya. Seperti Kang Haji ini yang jenius ketika manggih duit dijalan kemudian buru-buru di sakuan sebelum kapanggih sama yang boganyah. Hehehe,,,