Dulu, Kang Haji pernah mengeluh kepada ibu. Mengeluh tentang
suatu kejadian yang Kang Haji alami sewaktu disekolah. Dimana pemahaman Kang Haji akan kehidupan terlampau sempit sehingga memberi
luka yang tak mampu Kang Haji simpan sendiri; yang kala itu usia Kang Haji
masih belia. Sambil mengiris bawang dan bumbu-bumbu lain didapur, ibu
mendengarkan semua keluh kesah Kang Haji. Dan pada irisan terakhir, ia
menghentikan aktifitasnya.
Ibu mengiringku ke kursi disebelah meja makan yang sekaligus
juga meja untuk menerima tamu dan ruang keluarga, karena memang rumah orang tua Kang Haji dulu tak
begitu banyak mempunyai ruang. Kini pun tetap begitu. Setelah duduk, ibu
memelukku dan berkata;
“Haji, anakku…”
“Tidak semua orang itu baik. Kelak. Setelah dewasa nanti, kamu pasti akan mengerti apa yang ibu ucapkan ini. Kamu akan mengerti jika ucapan ibu ini bukan cuma isapan jempol belaka. Jangan jauh-jauh, buktikan saja ketika nanti kamu naik kereta atau naik bis, ketika disana ada wanita hamil atau seorang ibu yang menggendong anak yang masih balita, berapa banyak perempuan atau laki-laki yang masih segar bugar yang rela memberikan tempat duduk kepada mereka. “
“Mungkin mereka pura-pura tertidur atau mungkin juga benar-benar tidur.