Total Tayangan Halaman

"Sumarna Si Penjaga Villa : [Bagian 2]"

/c/


Sekitar jam delapan, setelah memastikan semuanya lancar. Moko berangkat kerja, ke pasar ikan. Tinggalah Didin dan Marna berbagi tugas untuk mengerjakan tugas harian. Mengepel, menyapu, menguras bak mandi, membenarkan atap yang bocor dan pelbagai macam pekerjaan rumah tangga lainnya, termasuk memasak. 


Sekitar jam sembilanan, Marna pergi ke ruangan warnet yang berada tak jauh dari bagunan Villa, sementara Didin masih berkutat didapur untuk menyiapkan sarapan, yang memang hari ini adalah tugas Didin dalam urusan dapur. Semua tugas mereka kerjakan sama-sama, kecuali memasak, mereka sepakat untuk membagi tugas ini karena yang satu harus menjaga warnet. Hari ini Didin memasak, Marna menjaga warnet. Besok Marna memasak dan Didin menjaga warnet. Begitu seterusnya.


Marna mengambil sapu dan membersihkan seluruh ruangan warnet, setelah sebelumnya menyalakan komputer utama dan empat komputer lainnya agar siap digunakan oleh para pengunjung warnet yang sebetulnya memang sepi dari pengunjung. Sejatinya warnet itu disediakan Haji Nonoh hanya untuk membantu para pekerjanya agar tidak jenuh ketika tak ada kegiatan berarti di Villa.

*****


Hari beranjak siang, setelah rutinitas pagi tadi yang rampung Marna kerjakan, selebihnya pekerjaan Marna adalah menunggu. Menunggu warnet yang sangat sepi dari pengunjung. Sehari tidak ada pengunjung adalah hal yang biasa. Karena membuka warnet dilokasi Villa yang jauh dari keramaian bukanlah hal yang akan menguntungkan. Maka hanya Marna-lah pengguna sejati dari warnet yang dia jaga. Untuk melawan kejenuhannya, Marna suka menghabiskan waktu dengan berinteraksi di salah satu jejaring sosial Facebook untuk hanya sekedar berbagi status atau berbagi photo. 


Sementara Didin sesekali ikut bersama, namun tak sesering Marna, Didin lebih sering menghabiskan waktu dengan telepon genggamnya, menelpon pacar. 


Tiap hari berganti, hari ini Tina, besok Euis, besoknya Rini, besoknya lagi Dian. Berbeda jauh dengan Marna, paling mentok, Marna menelpon atau ditelpon ibunya, atau adiknya. Itu juga kalau mereka punya keperluan? Kalau tidak, sepertinya mereka lupa bahwa mereka masih punya satu anak lagi yang bernama Marna. 


Didin sangat agresif. Terlebih urusan perempuan. Entahlah, itu yang selalu membuat Marna bingung. Marna sering bertanya-tanya; darimana Didin memiliki kekuatan untuk menaklukan semua perempuan itu? Padahal wajah Didin dan Marna tidak jauh berbeda. Maksudnya sama-sama kurang menjual, tapi di banding Marna, perempuan malah lebih memilih Didin. Itu juga terjadi kepada seorang perempuan yang sangat di taksir sama Marna, eh malah menyukai Didin? Remuklah hati Marna.


***** 

Photo Bangunan Warnet






/d/

Sore pun habis, hari hanya tersisa malam diiringi alunan suara jangkrik yang saling bersahutan. Diluar, langit teramat sangat gelap. Jalan didepan Villa yang sepi, semakin bertambah sepi. Namun, beberapa buah bola cahaya penemuan Thomas Alva Edison menerangi jalan menggantikan matahari yang berubah menjadi bulan. 


Marna mengunci gerbang villa dan pintu warnet. Ada lima kunci yang ia gunakan, salah satu kuncinya ada yang sangat besar sekali dan tentunya lebih berat dari yang lainnya. Marna tidak tahu dari mana Haji Nonoh bisa membeli kunci gembok seperti itu. Yang ia tahu hanyalah cara membuka dan menguncikannya. Suasana di dalam villa begitu hening, maklum, ruangan sebesar itu hanya di huni oleh dua orang, mereka tak pernah menggunakan fasilitas yang ada di bangunan villa. Mereka hanya berkumpul dibelakang atau sesekali diruang warnet, yang bangunannya memang terpisah dari villa.


Kini hari sudah benar-benar malam. Didin sudah tertidur di kamarnya. Satu jam kemudian, Marna masuk ke kamarnya, mematikan lampu dan tidur. 


*****
Photo Warnet Buka





/e/

Tiga tahun kemudian


Marna masih bangun di tempat yang sama. Villa yang sama, kamar yang sama, dengan lemari yang sama, juga dengan rutinitas yang sama. Tapi semuanya kini sudah berbeda. Tidak ada Didin yang selalu sibuk dengan hapenya, tidak ada lagi Moko yang pagi-pagi membuka gerbang kemudian menyeduh kopi dan duduk dipaviliun. Hanya dia sendiri di Villa Willasan Inn milik Haji Nonoh itu.  


Karena dedikasi yang telah di berikan, Moko di pekerjakan sebagai Mandor di salah satu proyek Haji Nonoh di Jawa Tengah. Moko sangat senang sekali karena bisa sekalian pulang kampung. Moko pun membawa istrinya ke kampung halamannya di Jawa Tengah. Sementara Didin, hanya dua tahun saja menemani Marna kemudian keluar. Ia sekarang menjadi karyawan disalah satu pabrik di Tanggerang


“Mar, kita gak bakalan terus-terusan hidup seperti ini” ucap Didin suatu ketika pada Marna, tepat seminggu sebelum mengundurkan diri. 


“kita tidak mungkin selamanya menggantungkan hidup pada gaji yang di berikan Haji Nonoh. Itu tidak cukup. Mungkin sekarang cukup karena masih membujang, belum punya tanggungan, tapi nanti? Apa kamu tidak ada niat punya istri?” 


“ya ada, aku kan normal” jawab Marna polos. 


“ya itu, apa kamu mau menghabiskan sisa hidupmu menjadi penjaga villa dan warnet sepi ini. Apakah kamu  rela membiayai istri kamu dengan gaji lima ratus ribu? Cukup buat apa, Mar? Belum lagi kalau punya anak? Masih banyak rencana hidup yang belum di tuntaskan, dan kamu tidak bisa bertahan dengan kondisi yang sekarang. Kita harus bangkit, bergerak keluar dari lingkaran nasib ini. Kalau tidak? Kamu bakalan membusuk di tempat sepi ini!”


Perkataan Didin itu membuat batin Marna remuk. Tepat di ulu hatinya yang paling dalam. Marna merasa sakit. Sakit sekali dengan ucapan Didin itu. Sakit karena pikiran dia tidak sampai kesana. Iri dengan semua rencana yang dipunyai oleh Didin.  Sementara dia sendiri. Tidak mempunyai rencana apa-apa. Tidak mempunyai rancangan apa-apa tentang bagaimana hidupnya berjalan. 


Dulu ketika Moko menawarkan pekerjaan itu, Marna hanya tahu, mendapatkan penghasilan, cukup untuk makan sendiri, yang penting tidak menjadi tanggungan orang tua. Baginya itu lebih dari cukup. 


Tapi ternyata, itu tidaklah cukup, kenyataan menuntut lebih. Marna tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia mendadak benci pada dirinya sendiri. Umurnya kini sudah di penghujung angka 30. Tapi kehidupannya tidak banyak yang berubah. Perubahan besar yang terjadi, yang Marna rasakan, yaitu ketika bertemu dengan Moko, yang mengantarkannya menjadi penjaga Villa Willasan Inn dan Warnet milik Haji Nonoh. Setelah itu, tidak ada. 


Marna menjalani hidupnya dengan monoton, nyaris seperti binatang, melakukan itu-itu saja berulang-ulang, rutinitas yang sama selama kurang lebih empat tahun ke belakang;  ngepel ruangan depan villa, menyapu, menguras bak mandi, menyalakan komputer, melayani pengunjung yang sesekali datang, membenarkan atap yang bocor, mengunci gerbang, mematikan semua lampu ketika malam, menerima gaji sebesar lima ratus ribu, dan hanya lima puluh ribu yang ia bisa tabung, sholat, nongkrong didepan komputer, beli rokok ke warung, masak mie… 


*****
Photo Ruangan Warnet


Cerita ini sejatinya bakal menarik kalau di lanjutkan, tapi sayang, saya harus mengakhirinya sampai di sana. Saya hanya bisa mengantarkan anda pada sepenggal episode kehidupan Marna bagian ini saja. Marna kini masih hidup sebagai penjaga Villa Willasa Inn, di Pelabuan Ratu, Kabupaten Sukabumi Kota Sukabumi, dia asli. Hidup dan bukan rekaan. Dia masih menjalankan rutinitas yang telah saya sebutkan di atas. Hanya saja saya tidak menuliskan nama asli pelaku sebenarnya. Marna, Moko, Didin dan Haji Nonoh hanyalah nama yang saya reka kedalam sebuah tulisan dari sebuah kehidupan nyata yang dijalani seorang penjaga villa yang sebenarnya.


Sesekali kehidupan yang kita jalani memang terkadang monoton, membosankan. Pengen rasanya menjalani kehidupan yang tidak biasa, tapi tidak bisa. Karena kita takut meninggalkan kehidupan yang sekarang ini. Padahal kita sendiri tidak tahu, apakah kehidupan yang kita jalani sekarang ini adalah yang terbaik buat kita, atau bahkan mungkin, Tuhan menunggu kita mengambil keputusan untuk merubah jalan hidup kepada yang lebih baik. Karena kehidupan yang sekarang, yang menurut kita baik, ternyata bagi Tuhan bukanlah yang terbaik? Tapi bagaimana caranya mengetahui jalan hidup yang terbaik bagi kita menurut Tuhan? Tentu kita tidak akan pernah tahu. Dan karena ketidaktahuan itulah, kita terus dihadapkan pada kegamangan pilihan, ini atau itu? 


Tapi jangan khawatir dengan cerita ini, anda jadi tahu, bahwa anda tidak sendiri,  ada Marna menemani anda. Terimakasih. Semoga bermanfaat.



----- SELESAI -----





Photo Si Penjaga Villa


Baca cerita Sumarna sebelumnya "Sumarna Si Penjaga Villa : [Bagian 1]"






2 komentar:

  1. wuah gak sudah selesei ceritanya, g da happy endingnya pak haji

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maap, Kang Haji hanya bisa menyampaikan sampai disitu saja.
      Bukan tak mau, tapi hanya sebatas itu yang Kang Haji tau tentang Si Sumarna. Kang Haji gak ngobrol banyak ma dia.
      Mudah-mudahan kalo ketemu lagi, Kang Haji bisa mengorek cerita kehidupan Sumarna yang lainnya.....

      Hapus

Terima kasih atas kunjungannya serta atas semua apresiasi yang telah diberikan.
Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua.
Aamiin.