Total Tayangan Halaman

"PERSEPSIKU TENTANG AKUN JEJARING SOSIAL YANG KUPUNYA DAN BEBERAPA KATEGORI PERTEMANAN"


Kang Haji sedang malas menulis, seperti halnya dulu ketika Kang Haji malas bekerja. Daripada membeli permen, Kang Haji lebih senang membeli rokok. Apalagi kalo ditambah segelas kopi panas. Wuih, muanntap bangeuutt. Apa hubungannya coba??. Hahaha...

Kang Haji hanya sedang ingin menulis yang ringan-ringan saja, sesuatu yang tidak perlu mengerutkan kening ketika kita membacanya. Apalagi sampe bunuh diri gara-gara tak mengerti isi tulisan yang dibacanya. Hahaha...

Tapi ketika membuka pesbuk, twitter, blog ataupun akun jejaring sosial lainnya (sekedar pemberitahuan. Kang Haji Cuma punya tiga akun itu aja. Hehehe), Kang Haji sedikit mengerutkan dahi. Eits,,jangan salah sangka dulu! Dahi berkerut bukan lagi mikirin hutang yang belum terbayar disana-sini, tapi berpikir tentang diri Kang Haji sendiri dan mungkin beberapa teman lain yang mempunyai akun jejaring sosial tapi tidak menggunakan poto asli dan nama asli, sehingga timbul beberapa pertanyaan mendasar, seperti;

"Mengapa seorang pesbuker, blogger atau…..(apa ya istilah pengguna twitter?)  tidak menggunakan nama asli ?? Mengapa tidak menggunakan potonya sendiri ?? Mengapa menggunakan nama samaran, fiksi, bahkan mungkin nama palsu. Lalu bagaimana dengan seseorang yang sering mengganti nama dan gonta-ganti poto yang bukan dirinya ??"

Sebenarnya dulu Kang Haji pernah menulis bahasan tentang ini dalam bahasa lokal ( Basa Sunda ) yang berjudul 'Dongeng Pesbuk; Jelma jeungJalma'. Mungkin beberapa teman-teman ada yang pernah membacanya. Namun, bila ada yang penasaran, bisa klik disini. Gak dosa kok !!! Asal jangan dibaca sambil solat aja, apalagi kalo dibaca sebagai pengganti surat pendek setelah Al Fatihah. Ich,,,jangan sampai deh !!! Sumpah itu gak boleh banget !!! Hehehe...

"Shella, maafkanlah ..."



Ini adalah sesuatu yang Kang Haji temukan dan harus Kang Haji sampaikan padamu, Shella. Kang Haji yakin hatimu begitu lapang untuk memaafkan kesalahan yang mungkin pernah ia buat padamu. Kang Haji yakin akan hal itu. Maapkanlah Dia.

"Kamu Tak kan Menemukannya Lagi"

Namanya Obel Sebastian. Nama yang tak umum bagi orang sunda kebanyakan. Entahlah, apa yang ada dipikiran kedua orang tuanya dahulu hingga menamakannya sepert itu.

Dulu, aku mengenalnya sebagai seorang pria yang penuh harapan dan cita-cita. Sebagai seorang pria yang selalu kuat dalam memperjuangkan keinginannya tanpa lelah, tanpa mengenal kata menyerah meskipun beribu aral menerjangnya. Akan tetapi, beberapa hari yang lau aku menemukannya dalam keadaan tak biasa, bukan sosok Obel yang kukenal dulu pantang menyerah dan kuat. Aku menemukannya begitu lemah, bahkan sangat.

" Mengenai Urang Sunda dan Hurup F " .Bag-2



Oke,,,kembali lagi ke hurup F.

Jadi begini kalau Kang Haji gambarkan yang bikin Kang Haji keuheul teh : Hurup F itu jelas sekali digunakan dalam kata-kata serapan dari bahasa asing. Let say,,Barat. Jadi apapun yang datang dari 'BARAT' itu Cool, keren, hebat, apapun !!! So, kalau sesuatu itu datang dari sana, kita harus mengikuti seperti yang mereka ucapkan or lakukan.

Hal tersebut terjadi secara Subconcius, karena inferioritas inilah, maka orang yang tidak bisa melafalkan hurup F inilah yang menonjol, karena budaya baratlah yang ditentangnya. 

" Mengenai Urang Sunda dan Hurup F " .Bag-1


Orang SUNDA gak bisa bilang F, diketawain. Padahal kalo dilihat dari sisi rasional atau sisi linguistik, hurup F itu berasal dari bahasa asing atau serapan dari arab, belanda, inggris, dan lain-lain. Sehingga wajar jangankan orang sunda secara khusus, secara umum orang Indonesia itu gak bisa bilang F, itu dikarenakan huruf F tidak ada dalam kosa kata asli bahasa Sunda atau bahasa Indonesia.

Sedangkan orang Jakarta atau dengan logat betawinya membunyikan hurup D menjadi T, hurup G menjadi K, hurup B menjadi F. Padahal jelas-jelas hurup-hurup D, G, dan B ini dipakai dalam kosakata asli bahasa Indonesia dan Sunda atau mungkin bahasa suku-suku lain. Kalau mau dibanding-bandingkan jelas mereka lebih banyak salahnya, itu secara rasional, sedang secara linguistis itu sangatlah fatal, salahnya karena hurup-hurup itu ada dalam kosakata asli bahasa indonesia.