Total Tayangan Halaman

"SENIN TADI AKU MANGKIR"

Rutinitas itu tentara sekutu, dengan bengis mencengkram kerah bajuku. Hari senin yang keji, tidakkah kau senang melihatku menatap pagi dengan keharuan ditodong sepucuk kantuk Dikeningku? Aku ingin kembali tidur, menjelma menjadi salah satu pemuda atau anjingnya saja*. Lalu masuk surga. Tapi kukira mereka masuk surga bukan karena tertidur lama, kata salah satu temanku, Dajjal pun tidurnya lama. Mereka masuk sorga, mungkin karena tidur ditempat yang tepat; dalam goa. Artinya mereka menghemat energi. Dan ini yang harus segera aku teladani, kebiasaan baruku tertidur dengan hape yang masih online memainkan pesbuk adalah sebuah tindakan Kontra Surga. Kemudian terbangun saat mentari mulai meninggi. Seduh segelas kopi lalu menghisap rokok dalam-dalam. Kukira tidur seperti itu berada dipihak Dajjal dan bukan ketujuh pemuda beserta anjingnya.

Harusnya aku tidak terjebak dalam sengketa persepsi itu, malah aku akan terkesan ngelantur bila surga diukur dari tidur. Apalagi jika terlalu berani ber-asumsi bahwa sorga bagi ketujuh pemuda itu adalah sebentuk konpensasi tuhan karena terlalu lama menelantarkan mereka didalam goa. Aku tidak harus bersikeras memikirkan mereka. Toh, aku harus terbangun juga. Aku hanya ingin senin pagi dengan geliatnya yang lebih anggun dan cantik, aku memikirkan geliat gadis cantik bintang sinetron. Akan menjadi anugrah jika kutemukan suatu senin yang berwarna merah. Tapi maaf, coba pertimbangkan lagi, mengapa kita tidak kerasan di goa-goa ?? Hidup yang dekat dengan ceria dan bahaya. Kita bisa mewarnai hari dengan merah-hitam atau apa saja. Tapi coba pertimbangkan lagi. Hidup seperti itu. Aku pernah menyaksikan para ahli berbicara di televisi yang cukup lancang, bahwa tindakan destruksi paling tajam dalam sejarah dimulai sejak manusia mengenal uang. Uang yang mendorong kita untuk memiliki rumah tiap masing-masing orang, ditambah Villa atau alasan investasi. Uang yang membuat sejahtera orang pemalas sekalipun dan mengiring simiskin yang rajin membanting tulang, menggiling daging, menggerus sumsum sekalipun. Maka uang menjadi lambang kesenjangan. Kepanikan terjadi bagi para pemerhati kedamaian, bahwa ancaman perdamaian terbesar selanjutnya bukan bukan dari pihak yang memiliki niat jelek atau obsesi seorang tiran, melainkan dari tuntutan rasional mereka-mereka yang hak-haknya tertumpas-rampas.

Tak ada yang salah dengan Senin. Jikapun Senin menyala merah, tentu ada selasa yang akan menggantikannya dan kemudian selanjutnya. Jangan terlalu berlebihan dengan menganggap senin sebagai kemudi bagi yang kemudian. Aku bangun di senin pagi, menembus barikade, kemacetan, lalu penumpang yang berjejal. Aku akan mampu melewatinya. Karena sehari berselang telah mendapatkan infusan energi dari warteg favoritku. Kenapa tidak, langkahku adalah gerak serempak irama ronggeng gunung. Melangkah bersama siapa-siapa. Aku akan mamutar lagu favoritku didalam kepala, seperti Jason Mraz atau Adele. Bersahutan suara klakson, pedagang asongan, dan jeritan penyamun lainnya tak kan mampu menimpali lagu dalam kepalaku.

"Jangan pernah tersesat", Itu amanat untuk pencari jalan, bukan untukku. Lagi pula aku sudah punya tujuan teguh menuju rutin. Tak akan terpeleset ke arah goa. Lalu ini dia. Jalanan yang penuh dan dinginnya pagi masih mencubitku tak henti-henti. Dalam angkutan nanti, kantukku mungkin berjaya. Bahkan untuk sebuah tempat duduk, aku harus bergulat dengan naga atau menjawab pertanyaan jebakan dari spinx. Ah, mungkin nanti saja agak siangan jalanan agak mendingan. Senin tadi, tanpa banyak berpikir lagi aku mangkir dari rutinitas.
* 7 pemuda dan satu anjing adalah kisah dari Ashabul kahfi

2 komentar:

Terima kasih atas kunjungannya serta atas semua apresiasi yang telah diberikan.
Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua.
Aamiin.