1.
Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, tiada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, bahkan Nabi sekalipun, pernah melakukan kesalahan. Apalagi kita, Nabi bukan, malaikat juga bukan? Sudah barang tentu sering melakukan kesalahan, disadari atau tidak. Di akui atau tidak.
Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, tiada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, bahkan Nabi sekalipun, pernah melakukan kesalahan. Apalagi kita, Nabi bukan, malaikat juga bukan? Sudah barang tentu sering melakukan kesalahan, disadari atau tidak. Di akui atau tidak.
Kita pernah salah memilih kostum, ketika di undang ke pesta pernikahan. Salah masuk kamar mandi, seharusnya perempuan, malah lelaki. Salah mengetik hurur F malah menjadi huruf R. Salah memilih jurusan, mestinya jurusan teknik malah jurusan seni tari. Salah memasang kabel, salah posisi tidur akhirnya sakit leher. Salah makan, akhirnya pagi-pagi, mencret, dan teler. Salah, salah dan salah. Kita banyak melakukan kesalahan.
Sesungguhnya kita begitu sering melakukan kesalahan. Hanya saja, terkadang tidak jarang orang yang pada dasarnya benar melakukan salah, tetapi tidak pernah mengakui bahwa apa yang diperbuatnya itu salah. Para pejabat yang maling uang rakyat, tak pernah sedikitpun merasa salah, para ustad yang selalu saja mekampanyekan glamoritas di depan media televisi, sebenar-benarnya salah. Hanya saja, demi perjalanan dakwah, entah karir, dia tidak mengakui bahwa itu salah. Banyak sudah kesalahan yang disangkal. Sedikit saja orang yang bisa dengan cepat mengaku bersalah, sebagiannya lagi, mereka menunggu bukti dan penjelasan bahwa dia memang benar salah; dia tidak sadar. Dia begitu benar. Dia sedemikian benar.
Oleh karena itulah, Haji Nonoh kembali menatap langit.
Dia hendak menanyakan kepada Tuhan, apakah yang dilakukannya itu salah atau tidak? Tentu saja, tidak ada jawaban dari langit. Bukan berarti Tuhan sedang sibuk, Tuhan tidak pernah sibuk. Tuhan tidak pernah ngantuk. Tapi juga Tuhan tidak pernah kentut. Hanya saja patut di ketahui, sudah lama Tuhan tidak lagi berkomunikasi dengan manusia lewat langit. Semenjak di hentikannya wahyu pada manusia yang bernama Muhammad SAW.
Kendati demikian, Haji Nonoh tetap menatap langit.
Pada kali kedua ini, Haji Nonoh tidak menantikan jawaban. Karena dia juga tahu, bahwa langit tidak bakalan menjawab semua permasalahan manusia. Dia hanya melihat langit begitu luas. Seakan tak berujung. Haji Nonoh takjub dengan hal itu. Seperti saat ini, Haji Nonoh terpaku, tak berkedip menatap poto seorang perempuan Bandung yang ada digalery Hp-nya.
“kesalahanku adalah terlalu mencintaimu, Bunda imut” gumam Haji Nonoh.
2.
Ada dua tempat yang Kang Haji senangi untuk melepaskan penat; gunung dan laut. Dan sekarang Kang Haji berada disalah satu tempat yang disenangi itu. Sebuah tempat yang ini adalah kali kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam yang Kang Haji singgahi...Hehehehe,,,, orang-orang disini menyebutnya sebagai pantai Ujung Genteng. Tetapi bagi Kang Haji sama saja, tidak ada bedanya laut yang bernama Ujung Genteng dengan laut yang berada di Palabuan Ratu, atau diSalabintana? (eh, emang di Salabintana aya laut kitu? Hahaha,,,,). Dua-duanya sama-sama memberikan ketenangan, hanya kebersihan yang membedakan salah satu diantara keduanya.
Atau harga dagangan yang di perjual-belikan yang membedakan satu tempat dengan tempat lain; di sini, harga bakso lima ribu mungkin masih bisa tetapi disana, mungkin sudah tidak bisa. Satu tempat memberikan sebuah paradigma, sebuah persepsi, sebuah opini, sebuah cerita. Begitu juga dengan tempat lainnya, berbeda paradigma, berbeda pula cerita. Satu tempat, satu dunia. Tapi satu manusia bisa memiliki pelbagai macam cerita.
Seperti yang pernah dilakoni Yana dulu. Mendekam di penjara bukanlah sebuah jalan cerita yang ia ingin pilih. Tetapi golok yang ditemukan polisi sudah berada di tangannya dengan mayat tergeletak di samping, adalah sebuah bukti yang tidak bisa disangkal lagi. Bahwa dia adalah pembunuh.
“kesalahan saya adalah tidak tahu apa yang harus saya lakukan” pikir Yana dari balik jeruji.
3.
Begitu juga yang terjadi pada Helny, seorang gadis Bandung yang termakan rayuan hingga terjebak pada cinta seorang pemuda keturunan Jawa, sebut saja Zainal. Mereka berdua memadu kasih layaknya seorang belia yang sedang dimabuk cinta. Puja-puji romantisme sering dilontarkan Zainal ke Helny, begitu juga Helny yang selalu menjawabnya dengan malu-malu dan sedikit manja. Satu bulan hubungan mereka dipenuhi suasana cinta yang sangat mulia. Seorang lelaki yang jatuh cinta pada seorang perempuan, bukanlah sebuah pelanggaran.
Namun ternyata persepsi cinta antara Zainal dan Helny sangatlah berbeda. Helny yang masih berusia belasan itu hanya berpikiran bahwa cinta itu adalah jalan-jalan berdua bergandengan tangan, pulang kerja dijemput, malem mingguan dan hal lainnya yang umumnya anak belia sering lakukan, sedangkan Zainal tidak. Zainal yang usianya lebih dewasa dan begitu mengidolakan sosok Miyabi, sudah melupakan cinta yang seperti itu. Zainal lebih kenal dengan ayat suci yang sering didengungkan oleh salah satu Group Band Indonesia, yang syair ayatnya berbunyi seperti ini; Rasanya ingin malam ini, Menciummu hingga lemas, Rasanya ingin malam ini, Memelukmu hingga terlelap (Ada Band).
Hingga pada suatu saat, dihari Minggu, ketika mereka main disuatu tempat. Hujan pun turun. Zainal menarik tangan Helny kemudian mengajaknya berteduh dibawah atap Sekolah Dasar yang kala itu sepi. Hujan membasahi sebagian baju Helny. Zainal yang berdiri disamping Helny, entah kenapa kemudian merapat mendekat. Helny sempat mengelak. Tapi alasan Zainal berhasil. Ia bilang biar lebih hangat. Helny tak berdaya. Ia merasa diperhatikan, merasa terlindungi. Awalnya tidak terjadi apa-apa selama tiga puluh menit. Namun kemudian, hujan turun begitu deras. Mereka berdua sedikit masuk lebih dalam dan bersandar pada pojokan dinding sekolah tersebut yang lebih terlindungi dari pandangan luar.
Tidak tahan melihat kemolekan tubuh Helny yang dibalut baju tipis yang basah, betisnya yang begitu mulus dan putih, wajahnya yang kuyup, ditambah dinginnya angin yang disertai hujan, juga sepinya suasana lingkungan sekitar membuat jantung Zainal berdegup, kalang kabut. Akhirnya Zainal memberanikan diri, menempelkan bibirnya ke bibir Helny.
Dan begitulah awal mulanya semua terjadi.
4.
Tidak ada yang salah dengan kesalahan, yang salah adalah ketika kita tidak bisa mengambil pelajaran dari kesalahan yang kita lakukan. Tidak ada ruginya berbuat salah, yang paling rugi adalah ketika kita tidak bisa mengambil untung dari kesalahan yang kita kerjakan. Tidak ada salahnya berbuat salah, yang salah adalah orang yang terus menyalahkan orang lain sementara dirinya tidak pernah mau mencoba karena takut salah.
Tidak ada salahnya bertindak bijaksana, kalau gegabah sudah biasa. Tidak ada salahnya, mengikuti aturan rasul jika mengikuti pepatah filsuf hidupmu tidak berubah. Tidak ada salahnya orang lain benar, jika kita memang benar salah.
“dan aku pikir ini bukan kesalahan” gumamnya suatu ketika.
…
5.
Catatan ini Kang Haji tulis dari sebagian kisah Kang Haji sendiri dan sebagian dari kisah mereka-mereka yang bercerita pada Kang Haji, hanya saja Kang Haji tak memakai nama sebenarnya, juga dengan alur cerita yang sedikit berbeda.
Ya, penilaian ada terhadap kalian (pembaca), entah itu baik atau buruk, hanya saja cerita ini dituturkan sebagai bahan renungan bahwa sesungguhnya kita (manusia) adalah makhluk yang sempurna, karena memiliki tempat untuk salah dan benar. lalu kemudian belajar dari keduanya.
Sekian. Semoga bermanfaat dan Terima kasih banyak buat semua sahabat-sahabat Kang Haji yang sudi membagi kisahnya dimana perjalanan hidup kalian mampu memberikan pemahaman baru bagi Kang Haji. Tak lupa pula permohonan Maaf yang sebesar-besarnya apabila ada sahabat Kang Haji yang kurang berkenan ketika kisahnya Kang Haji muat dalam tulisan ini. Sesungguhnya bukan niat buruk Kang Haji untuk meceritakan aib seseorang, akan tetapi berbagi hikmah dari setiap perjalan yang telah kita terlewati, dengan harapan agar orang lain mampu belajar dari kisah kalian. Kang Haji berharap kalian tak merasa keberatan atas ini.
Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua. Aamiin.
.

Selama masih nafsi, pasti salah bah,..bagus nih filsuf juga si Abah Haji..sukses, lanjut trus bah tulisan yang model begini, jangan lari-lari, trus lebih baik bercita-cita jadi koruptor, ketimbang koruptor yg bercita-cita jadi orang baik...hu hu hu
BalasHapusJiaaahhh,,,ada-ada aja,,,
Hapusmau jadi baik kok dilarang,,,
hahahha,,,
hehehe siip menghibur tulisannya
BalasHapusMakasih, Kang !!
HapusSemoga ada manfaat yang bisa diambil dan semoga kebaikan selalu menyertai kita. Aamiin.
tulisan yg menghibur, tpi sarat akan makna filosofis...!!!!
BalasHapusAh, bisa aja Kang Arya mah.
HapusIni pujian atau apa nih??? Karena 'Segala puji hanya bagi Alloh Swt'.
hehehe,,,
Makasih, Kang Arya.
sekali lagi makasih banyak udah sudi berkunjung di tempat yang tak rapi ini,,,dan tak lupa terima kasih pula untuk apresiasi yang diberikan.
Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua. AAmiin.
manusia tidak pernah luput dari kesalahan..
BalasHapusItulah kesempurnaan dari manusia yang memiliki semua rasa,,,
HapusHehehe,,,
makasih banyak udah sudi mampir disini,,, :)
good strory...!!
BalasHapusdatang ke raulsian.blogspot.com ya.. ^^
Makasih sudah mau singgah.
Hapusinsya alloh ntar Kang Haji singgah....